tabloid pertama karya CAH BLORA ASLI
Tampilkan postingan dengan label 10 Januari 2010 - upload Roes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 10 Januari 2010 - upload Roes. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2010

FILM BLORA GO INTERNASIONAL- SRBlora 84-planning

"AYAM MATI DI LUMBUNG PADI"

Film Blora Ikut Festival Film Internasional

 

BLORA, SR- Kabar baru masyarakat Blora terkait keikutsertaan film tentang Blora dalam Festival internasional.

     

Film dokumenter berlatar bumi-manusia Blora "Ayam Mati di Lumbung Padi" bakal mengikuti South to South atau Stos Film Festival 2010, 22-24 Januari di Jakarta.

 

Film garapan Button Ijo Production itu bersanding dengan film-film dokumenter lain yang menyoroti tentang kritik sosial dan lingkungan hidup dari daerah dan negara lain.

     

Salah seorang produser "Ayam Mati di Lumbung Padi" Darwin Nugraha, Senin (4/1), di Blora mengatakan, Stos Film Festival 2010 adalah kompetisi film-film yang dikumpulkan dari berbagai negara selatan. Film itu terkait erat dengan kepedulian lingkungan, gender, keadilan, dan hak asasi manusia (HAM).

     

Film itu harus berkategori lingkungan mengenai keterkaitan hulu-hilir, kota-desa, dan produksi-konsumsi, atau cerita sukses pejuang lingkungan hidup dan keterkaitannya dengan isu HAM dan gender. Film itu juga dapat berupa video kampung soal suatu wilayah dan komunitasnya.

     

"Film kami berkompetisi dengan film-film berkategori hulu-hilir karena menggambarkan kehidupan dan perjuangan masya-rakat hulu. Film kami ditayangkan bersama film dokumenter negara-negara lain yang mengangkat tema penambangan," kata Darwin.

     

Dalam Festival Film Indonesia 2009, "Ayam Mati di Lumbung Padi" meraih Piala Citra kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik. Film itu menyisihkan 38 film genre dokumenter dan mengalahkan lima film dokumenter lain yang masuk nominasi.

     

Film itu tentang perjuangan Indra, Lasno, dan Seno, warga Kelurahan Tempelan, Kecamatan Blora. Mereka kesulitan mencari kerja, pelayanan kesehatan yang baik, dan mendapat bantuan langsung tunai di negeri yang kaya akan sumber daya migas dan hutan.

     

"Orang seperti mereka kerap dilupakan pengambil kebijakan. Setiap pemilu, mereka menjadi korban aneka kampanye demi pemenangan seseorang atau kelompok. Kami ingin pengambil kebijakan menonton film dokumenter ini sehingga mereka peduli dan memberi solusi atas persoalan itu," kata Darwin.

     

Koordinator Komunitas Pasang Surut Eko Arifianto mengatakan, film itu mengusung tema dan kritik sosial yang pas dengan konteks Blora. Blora adalah salah satu kota penghasil minyak dan gas bumi yang terkenal dengan Blok Cepu.

     

"Hasil migas belum mengurangi pengangguran, kemiskinan, dan meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat," kata Eko. (Roes)

Minggu, 10 Januari 2010

PROYEK BERMASALAH - SRBlora 84 planning

Yantinah Kecewa Proyek Tanggul Kali TalokWohmojo


NGAWEN, SR- Sorotan masyarakat terkait kinerja komisi C DPRD Blora, terhadap proyek APBD Blora tahun 2009, yang kurang turun ke proyek membuat gerah Yantinah.


Wakil Rakyat dari Cepu ini tak tanggung-tanggung langsung turun ke lapangan dan menyoroti beberapa proyek yang tidak sesuai besteknya. Diantara proyek yang menjadi sorotannya adalah Proyek tanggul kali di desa Talokwohmojo kecamatan Ngawen.


Menurut dia jebolnya tiang pembagi air pada proyek tersebut dikarenakan kontraktor kurang memenuhi standard tehnis yang ada dalam bestek tersebut.


“Tiang pembagi tanggul yang ada di tengah kali ada 4 Buah, tapi yang rubuh hanya satu, ini jelas harus dipertanyakan komposisi campuran bangunan tersebut,” kata Yantinah.


Wartawan SR yang juga terjub dilokasi memang melihat bahwa bangunan penyekat tanggul di tengah ada 4 buah, namun karena hujan yang satu rubuh diterjang air.


Yantinah juga menampik isu yang menyebutkan kalau dirinya sebagai anggota komisi C menerima uang dari proyek APBD 2009 itu. Untuk itulah dirinya membuktikanya dengan tegas akan menilai proyek yang tidak memenuhi bestek.

KECEWA; Ambrolnya sala satu pembatas tanggul kali desa Talokwohmojo kecamatan Ngawen yang menbuat Yantinah mempertanyakan mutu bangunan yang dikerjakan kontraktornya. (Foto: Roes/SR)


“Kami bersama teman-teman komisi C akan tegas merekomendasi kontraktor proyek yang nakal ke Bupati Blora, agar tahun selanjutnya di back list,” ungkap Yantinah.


Ketika ditanya terkait tidak adanya konsultan pengawas pada semua proyek di DPU, dirinya mengatakan tidak begitu berpengaruh pada proyek fisik.


“Dengan catatan para kontraktor benar-benar memperhatikan bestek dari proyek tersebut,” tegasnya.


Disamping itu dirinya juga menampik isu yang menyebutkan bahwa kalau dirinya menerima uang sehingga tidak mendukung hak angket. Menurut Yantinah, kabar yang beredar ada pembagian uang (dari pemkab) bagi anggota dewan yang tidak mendukung hak angket adalah fitnah.


“Saya juga dan anggota DPRD Blora lainnya mendapat uang Rp.10 juta, asal menolak hak angket, itu adalah Fitnah,” tandas Yantinah.


Yantinah juga menambahkan saat ini harusnya anggota dewan berpikir bagaimana membawa perubahan, misalnya menetapkan APBD Blora 2010 di wal tahun bukan malah terjebak persoalan hak angket.


“Yang utama kita pikirkan APBD untuk rakyat agar segera ditetapkan, karena perekonomian rakyat Blora bertumpu pada APBD bukan pada hak angket,” tambah Yantinah.(Roes)

Sabtu, 09 Januari 2010

MINYAK BUMI Kab BLORA - 84 Planning

2012 Minyak Bumi akan Keluar dari Tanah Blora.

 

BLORA, SR- Harapan masyarakat Blora untuk segera dapat menikmati hasil minyak pada Blok Cepu, yang keluar dari kabupaten Blora, agaknya harus bersabar.

     

Hal ini diungkapkan Dirut Blora Patragas Hulu (BPH) Christian Prasetya, pada acara jumpa Pers di RM Joglo Rabu (30/12) saat ditanya wartawan SR.

 

“Blok Cepu melalui Sumur Banyurip kabupaten Bojonegoro Awal September 2009 telah diproduksi, sedang untuk wilayah kabupaten Blora diperkirakan 2012 baru dieksplorasi,” kata Christian Prasetya.

     

Menurut Dia produksi pertama kalinya blok Cepu pada sumur Banyurip tersebut sebanyak 2000 barrel perhari.

     

“Sehingga bila dikalkulasi sampai dengan Desember 2009 sudah lebih dari 1 juta barrel,” jelas Chris.

     

Dari data SR produksi pertama kalinya minyak dengan cara memompakan minyak dari salah satu sumur di lapangan Banyuurip, Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

     

Setelah minyak berhasil keluar, selanjutnya dilakukan pembakaran untuk memisahkan gas dan air. Kenapa dibakar di sekitar tapak sumur?


Dirut BPH: Orientasi pemikiran kapan Blok Cepu segera produksi di Blora, yang selalu muncul di benak Christian Prasetya (Foto Roes/SR)

     

Sesuai dengan keterangan petinggi MCL sebelumnya, pembakaran dilakukan setelah minyak dialirkan dari tapak sumur atau proses tahap pertama melalui pipa sepanjang 2,2 km ke Gas-Oil Separation Plant (GOSP).

     

Kemudian di Desa Ringintunggal, Kecamatan Kalitidu dan Desa Gayam, Kecamatan Ngasem itulah proses di tahap kedua dilakukan, salah satunya melakukan pembakaran gas.

     

Alasannya Karena memang prediksi kami seperti itu, nantinya gas dan air akan diinjeksi kembali ke tanah untuk menambah tekanan.

     

Setelah minyak sampai di GOSP, selanjutnya dialirkan ke pipa sepanjang 37 km yang dimiliki oleh Pertamina/Geolink menuju ke penampungan di sekitar Central Processing Area (CPA) Mudi, Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.(Roes)