tabloid pertama karya CAH BLORA ASLI
Tampilkan postingan dengan label Edisi akhir Mei - Awal Juni 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi akhir Mei - Awal Juni 2009. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2009

SR edisi 68 - HUKUM -REKONTRUKSI

Rekontruksi ”Mayat Spanduk”
Pelaku Ingin Terkenal


BLORA, SR - Rekontruksi geger ”mayat spanduk” yang menjerat Gus Ali, tabib pengobatan As Syifa yang membuka praktek di Perumahan Kamolan Indah, Desa Kamolan, Kecamatan Blora, Blora mengundang perhatian warga sekitar. Meski polisi telah memasang police line namun warga tetap nekat menerobos untuk melihat langsung bagaimana tabib itu membuat mayat yang isinya sepanduk yang membuat geger warga Blora.

Saat rekontruksi terungkap bahwa Gus Ali awalnya menyuruh Mulyono, Supardi dan Lastono (saksi) untuk membuat lubang di depan mushola miliknya, setelah rampung kemudian disuruh menutup dengan pintu mushola yang terbuat dari bambu. Penggalian itu dilakukan saat tengah malam.

Kemudian Gus Ali menyuruh mereka berhenti menggali dan disuruh mandi, mengambil air wudlu dan yasinan. ”Stop, mandek terus ambil air wudlu dan yasinan,” kata Gus Ali saat rekontruksi, Senin (18/5).

Setelah ketiganya pergi, kemudian secara diam-diam Gus Ali yang kini jadi tersangka kemudian memasukan mayat itu kedalam lubang tanpa diketahui siapa-siapa. ”Saya lempar dan saya toto agar menyerupai mayat, lalu saya tutup kembali,” ucapnya enteng.

Ingin Terkenal
Kapolres Blora AKBP R Umar Faroq yang memimpin langsung olah TKP mengatakan bahwa awalnya tersangka mengaku menemukan mayat Aulia dalam kondisi yang utuh dengan kain kafan yang masih putih, mayat Aulia sendiri diperkirakan meninggal pada abab XIX.

”Kalau namanya makam istimewa pasti diperlakukan secara khusus, nah dari situ polisi mulai curiga, dan akhirnya dilakukan pembongkaran, terbukti setelah dibongkar isinya hanya berupa kaos oblong, kain, korden,” ungkapnya di TKP didampingi Kasat Reskrim AKP Pri Hariyadi dan Kapolsekta Blora AKP Slamet, Senin (18/5).

Menurutnya apa yang disampaikan oleh Tabib itu ternyata berita bohong dan meresahkan warga. Langkah hukumnya tersangka dijerat dengan pasal pasal 171 KUHP tentang berita bohong dan juga UU Kesehatan Nomor 23/1999.

”Saat pemeriksaan motifnya hanya ingin tekenal sehingga praktek pengobatannya menjadi laku sebab masyarakat sangat percaya bila tabibnya memiliki hal-hal yang berbau ghoib,” ujar Kapolres.
Tidak hanya itu, ternyata praktek pengobatannya juga ilegal karena belum memiliki ijin dan belum terdaftar di Kejaksaan ataupun Depkes. (Gie)

Selasa, 02 Juni 2009

SR Edisi 68 - F O K U S - APBD Memanas


8 Juni, Perseteruan Ketua DPRD-Bupati Memuncak 

BLORA, SR - Keterlambatan APBD Blora tahun 2009 secara langsung mengundang berbagai pendapat dari masyarakat. Hampir sebagian besar masyarakat setuju apa yang diusulkan Bupati ataupun hasil rekomendasi Gubenur Jateng, tentang pemerataan P2SE untuk seluruh desa se Kabupaten Blora yang berjumlah 271 desa. 

Sebagaimana diketahui, evaluasi dari gubernur tentang RAPBD tidak membolehkan defisit Rp 24,5 miliar. Untuk itulah gubenur menyarankan revisi RAPBD tersebut. Tepatnya tanggal 8 Mei selesai dilakukan pembahasan ulang dan dikirim ke gubenur.

Namun menurut Bupati Blora Yudhi Sancoyo, pembahasan tersebut terutama P2SE, belum sesuai rekomendasi gubenur yakni agar ke 271 desa mendapat dana tersebut.

Dari sinilah pihaknya menilai karena dewan mengabaikan evaluasi dari gubenur, maka pihaknya belum menandatangani.

Direktur LSM Wong Cilik Ateng Sutarno membenarkan apa yang dilakukan Bupati Blora. Alasanya cukup sederhana yakni dana P2SE sebaiknya dibagi rata kepada 271 desa. “Terlepas apakah APBD sah dan tidaknya, saya sependapat dengan bupati, karena banyaknya desa 271 maka yang adil ya sebaiknya dapat semua,” katanya.

Sebenarnya Ateng sudah lega setelah mendengar kalau Bupati Blora dan Ketua DPRD sepakat dan setuju bahwa alokasi dana P2SE diratakan untuk 271 desa. Selanjutnya ditindaklanjuti Minggu (24/5), sejumlah anggota tim anggaran eksekutif yang dipimpin Sekda Ir H Bambang Sulistya berkoordinasi dengan dewan. Namun, mereka pulang dengan tangan hampa. Sebab, kalangaan dewan menyatakan tetap tidak menyetujui jika P2SE diratakan. “Biar masyarakat menilai, siapa yang tidak konsisten terhadap kesepakatannya,” tegas Ateng

Di tempat terpisah salah satu caleg terpilih Yantinah mengutarakan apa yang dilakukan bupati yang belum tanda tangan adalah benar. “Alasan Bupati yang minta agar P2SE diratakan itu bisa dimaklumi, karena dasarnya demi pemerataan pembangunan di Blora,” katanya.

Dia juga menjelaskan kalau UU di atasnya melarang maka perundangan di bawahnya harus mengikutinya. Kalau pun itu dilanggar adalah kewenangan institusi hukum yakni MK untuk memutuskannya.

“Yang saya tahu secara yuridis kewenangan Warsit hilang setelah divonis PN bersalah walau sampai sekarang masih dalam proses banding. Dan yang lebih jelas ya pada PP 25/2004 tentang Pedoman dan Penyusunan Tatib DPRD pasal 45 ayat 2,” jelasnya

Ketika ditanya apakah dirinya dari partai yang sama dengan bupati sehingga mendukung langkahnya, dia menjawab jangan dikaitkan. “Ini sebagai pendapat pribadi saya, sekarang saya ganti bertanya pada anda. Apakah SKPD sanggup menunggu pengesahan APBD oleh anggota DPRD yang baru,” tandas Yantinah.

Komentar berbeda disampaikan calon legislatif terpilih dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Kabupaten Blora, Sugeng Hariyanto. Sugeng berharap ada komunikasi yang intens antara eksekutif dan legislatif terutama dalam konteks ploting dana P2SE. “Ini hanya persoalan sudut pandang yang berbeda saja. Kan hanya persoalan dana Rp 38 Miliar itu mau dibagi kepada 200 desa atau 271 desa. Saya kira jika sama-sama mau berpikir jernih, masalah ini cepat selesai,” ungkapnya kepada SR, Selasa (26/5). 

Hal senada disampaikan caleg terpilih dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kabupaten Blora, HM. Hasan. Menurutnya, jika mau berpikir untuk kepentingan rakyat, mestinya APBD segera ditetapkan. “Jika tidak mau menetapkan, ya sebaiknya wayangan saja biar tambah menarik,” ungkap calon dari Dapil V (Todanan, Kunduran, dan Japah).  

Sementara di tempat terpisah ketua DPRD Blora HM Warsit dalam keterangan persnya tetap bersikukuh dengan 200 desa saja yang mendapat dana P2SE. Alasan ketua DPRD Blora yang menjabat tinggal satu setengah bulan lagi adalah pengeplotan dana tersebut sudah ditetapkan DPRD pada RAPBD, sehingga untuk mengubahnya tidak sesederhana yang dibayangkan.

“Sebab, hal itu sudah menjadi ketetapan. Untuk mengubahnya harus sesuai dengan aturan yang ada. Misalnya harus ada panitia musyawarah (panmus), pembahasan bersama dengan tim anggaran eksekutif dan lain-lain,’’ jelasnya.
Warsit juga menandaskan agar bupati mau tanda tangan dulu sehingga APBD bisa segera ditetapkan. Apabila nanti kalau memang menghendaki perubahan bisa dilakukan melalui DPRD review. (Roes)

Senin, 01 Juni 2009

SR Edisi 68- FOKUS SAMPING- Warsit terjepit




Bupati Blora Yudhi Sancoyo
Diperingatkan Menteri Keuangan

BLORA, SR - Kabupaten Blora ternyata termasuk salah satu dari tiga kabupaten di tiga provinsi, yaitu Sumatra Utara, Jawa Tengah, dan Papua, yang terkena sanksi dari Departemen Keuangan gara-gara belum mengesahkan APBD 2009 hingga April. Bentuk sanksi itu berupa pemotongan dana alokasi umum (DAU) 25% setiap bulan dan penundaan penyaluran dana alokasi khusus (DAK).

Bupati Blora Yudhi Sancoyo membenarkan kabar tersebut. Namun, menurut dia, sanksi itu bukan karena pihaknya hingga saat ini belum mau tanda tangan pada APBD yang disahkan oleh DPRD pada Jumat (8/5) lalu. “Kami diberi waktu satu bulan untuk konsultasi, sehingga masih ada waktu 2 minggu lagi (8 Juni, red) batas akhirnya. Itulah alasan saya belum menandatanganinya,” tegas Yudhi ketika dikonfirmasi Selasa (26/5).

Bupati Blora juga menggarisbawahi untuk tidak salah persepsi, Karena keputusan terkena sanksi dari Menteri Keuangan itu sudah dijatuhkan pada 30 April lalu. “Jadi tidak ada hubungannya dengan saya yang masih konsultasi dengan gubenur,” tandas Yudhi.

Bupati juga menambahkan keputusan itu diambil berdasarkan surat Menteri Keuangan No 6/Km7 bertanggal 30 April 2009 mengenai keterlambatan Blora dalam mengesahkan APBD. Sebelum sanksi itu dijatuhkan, sebenarnya dua bulan sebelumnya Blora sudah diperingatkan, yaitu melalui surat bertanggal 6 Maret 2009. (Roes)


Setyo Edy , Staf Ahli Bupati Blora
Ora Golek Ménange Dhewe

BLORA, SR - Mungkin bagi masyarakat awam jabatan staf ahli Bupati, belum begitu mengerti untuk apa mereka dilantik. Padahal saat ini, yakni ribut-ribut tentang APBD, adalah saat yang tepat untuk karyanya.

Setyo Edy, salah satu staf ahli bupati kepada SR mengutarakan, bahwa keterlambatan masalah penetapan APBD Blora hendaknya disikapi secara utuh. “Artinya mulai dari pra penyusunan, proses pembahasan maupun evaluasi dokumen, kalau niatnya untuk rakyat tentunya ora golek menange dhewe,” katanya.

Menurut Setyo hendaknya dalam penyusunananya sampai perda APBD disahkan harus memenuhi koridor hukum yang berlaku. “Mekanisme protap penyusunan kegiatan anggaran yang telah disepakati secara nasional, wajib sebagai pedoman agar nantinya dapat memberi kepuasan semua pihak,” katanya.

Disamping itu tambah Setyo Edy yang juga anggota tim advokasi KAI Jateng ini, penyusunan dan perencanaan APBD dari eksekutif telah diputuskan dalam forum SKPD.
“Jadi perencanaan bila dirubah secara sepihak, apakah nantinya SKPD yang menangani kegiatan itu sanggup melaksanakan. Misalnya PMD yang menangani P2SE itu,” ungkapnya.

Ketika ditanya bagaimana langkah bupati terhadap masalah ini, Setyo Edi mengatakan kembalikan sesuai mekanisme perundangan yang berlaku. 

Dia menambahkan bahwa apa yang diajukan tim eksekutif di bawah kendali Bupati, sudah melalui proses tahapan penyusunan dokumen perencanaan. Sedang proses itu sendiri sudah melalui 5 pendekatan perencanaan pembangunan. Yakni perencanaan pembagunan yang berasal dari top down, bottom up, tehnokrat, politis dan partisipatif. 

“Jadi bukan semata-mata hanya kepentingan politis. Maaf namanya saja Staf Ahli Bupati dan bupati adalah jabatan politis. Jangan kaget bila jawaban saya tadi juga menyrempet masalah politis,” tambahnya. (Roes)


SR Edisi 68- POLITIK HUKUM

Polemik APBD Blora 
Warsit : “Tanpa Tanda Tangan Bupati, APBD Tetap Sah”

BLORA, SR - Polemik APBD muncul lagi setelah kabar terbaru dari anggota DPRD Blora yang konsulatsi ke Jakarta. Kabar itu dihembuskan sejumlah anggota DPRD Blora yang baru saja beraudiensi dengan Depkeu dan Depdagri. Ketua DPRD Blora HM Warsit mengatakan, APBD Blora sah demi hukum. ”Hasilnya positif. Pokoknya APBD sah demi hukum,” tandasnya kepada SR, Kamis (28/5).

Dia mengemukakan, sesuai dengan hasil audiensi ke Depdagri dan Depkeu, tanpa atau dengan tanda tangan Bupati, APBD Blora tetap sah. Namun demikian, jajaran Dewan berharap Bupati segera tanda tangan, dan jika sampai tidak tanda tangan, Dewan akan menggunakan hak angket untuk menuntaskan persoalan tersebut. ”Saya sudah mendengar kabar kalau Bupati sudah mau tanda tangan,” jelas Warsit.

Ditanya apakah saat di Jakarta soal dirinya memimpin sidang dipersoalkan, dengan tegas Warsit mengatakan, sesuai dengan hasil audiensi, tidak ada persoalan jika dirinya yang memimpin sidang APBD tersebut.

Soal batas waktu 30 hari, sesuai dengan UU No 10 Tahun 2004, Warsit mengatakan, meski kelak diperhitungkan tanggal 25 Mei, jajaran DPRD tidak akan mempersoalkannya jika semua itu akhirnya diperhitungkan tanggal 8 Juni. 

”Tidak masalah jika diperhitungkan tanggal 8 Juni, toh prinsipnya APBD Blora tetap sah,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, perjalanan penetapan APBD Blora sempat menapaki jalan berliku. Menyusul telah disetujuinya RAPBD, hasil evaluasi Gubernur turun dan Dewan bersama tim anggaran menyempurnakannya, tetap saja muncul kendala.

Kendala yang dimaksud, Bupati Blora belum sudi menandatangani karena dia menghendaki pengeplotan dana Proyek Peningkatan Sarana Ekonomi (P2SE) Pedesaan diratakan di 271 desa. Sementara itu, jajaran Dewan tetap bergeming, menghendaki P2SE di 200 desa sesuai dengan yang tercantum pada RAPBD. (Roes)

Pasangan Mega-Prabowo Diyakini Menang di Blora 

BLORA, SR - Pasangan Mega-Prabowo lebih menjanjikan dan optimis unggul di Blora. Hal itu diungkapkan Juki, ketua Banteng Kota Blora saat ditemui SR, Kamis (28/5). Menurut pria yang sering mengkritisi DPC PDIP Blora, saat ini barisannya baru sosialisasi melalui spanduk.

“Kami saat ini baru sekedar sosialisasi lewat pemasangan spanduk, itupun dari hasil swadaya kelompok kami,” katanya.

Ketika ditanya SR apa motifnya menjagokan Megawati dan Prabowo unggul di Blora, Juki hanya menjawab singkat. “Sosok Megawati yang kharismatik dari Bung Karno mewakili aspirasi wanita, sedang Prabowo disamping tokoh militer juga salah satu yang mempunyai ide dan gagasan memperjuangkan petani serta diakui masih mempunyai kekuatan besar,” jelasnya.

]Menurutnya, dengan pertimbangan itu, dirinya sangat yakin bila nantinya pasangan ini unggul Mutlak di Blora. Disamping itu selama pemilu, jumlah pemilih pada partai yang berbasih nasionalis selalu unggul di Blora.

“Juga perhitungan kami di atas kertas, jumlah pemilih wanita di Blora lebih banyak dibanding pria. Megawatilah satu-satunya capres yang bias mewakili mereka,” tambah Juki. (Roes)



Minggu, 31 Mei 2009

SR Edisi 68 - Halaman 2 - Redaksi KULANUWON



Era Kebangkitan Wakil Rakyat

Mari Bersama Membangun Blora

Penulis: Drs. Ec. Agung Budi Rustanto*)


Harus diakui, Blora mempunyai banyak sumber daya alam, diantaranya minyak dengan Blok Cepunya dan hutan. Hanya sebagian lahan pertanian yang bisa diandalkan. Kekeringan menjadi bencana tahunan hampir sebagian besar kecamatan Blora. Karena itu, masyarakat Blora tak kurang dari 12 persen yang boro, merantau ke luar kota, bahkan luar pulau untuk mencari penghidupan yang lebih baik.


Secara umum, menurut penulis ada beberapa masalah pokok yang mendera Kabupaten Blora. Mulai permasalahan politis sampai masalah yang lain. Misal setiap tahunnya dalam menentukan APBD Blora selalu terjadi tarik ulur kepentingan antara eksekitif dan legislatif. Bahkan tahun ini merupakan yang paling parah, sehingga menyebabkan DAU dipotong.


Demikian juga masalah lain adalah mulai tampak tingginya jumlah penduduk miskin, tingginya angka pengangguran, dan tentunya penanggulangan kekeringan yang tidak pernah luput setiap tahunya.


Tentu saja, bukan hanya pejabat Pemkab yang mempunyai tugas membawa kehidupan masyarakat Blora menjadi lebih baik. Tugas itu tersampir pada semua kalangan dari warga, aparat pemerintahan hingga para politisi pengambil kebijakan.


Bila melihat sejarah ketika Hari Rabu, 20 Mei 1908, dr Soetomo dan kawan-kawannya mendirikan perkumpulan yang mereka beri nama Boedi Oetomo. Sebuah perhimpunan yang mereka maksudkan untuk membangkitkan para pemuda Indonesia untuk mengejar ketertinggalan bangsanya dalam segala bidang akibat kolonialisme Belanda.


Terbentuknya Boedi Oetomo itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan pada tahun ini, tepatnya hari yang sama, Rabu 20 Mei 2009, 101 tahun kemudian bangsa kita telah mengalami kemajuan yang luar biasa pesat jika dibandingkan pada masa itu. Namun di sisi lain, sesungguhnya masih begitu banyak kekurangan, ketertinggalan dan keterbelakangan. Tentu saja Kabupaten Blora juga tak lepas dari kekurangan dan ketertinggalan itu.


Rasanya tidaklah berlebihan jika momentum Kebangkitan Nasional, Rabu minggu lalu, kita kaitkan dengan ditetapkannya hasil Pemilu legislatif yaitu para calon penghuni gedung Dewan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di seluruh Indonesia, Minggu (17/8) silam.


Mengapa peringatan Kebangkitan Nasional dan penetapan para calon anggota legislatif itu menjadi sangat relevan dihubungkan? Tak lain karena para wakil rakyat adalah komponen bangsa yang berperan besar dalam menentukan arah dan tujuan bangsa ini hendak ke mana akan berjalan.

Sekaranglah saatnya para wakil rakyat Kabupaten Blora yang sebagian besar adalah wajah baru, yakni sekitar lebih dari 80 persen, agar berperan maksimal. Dan dapat menunjukkan secara nyata peran dan fungsi mereka, sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya.


Sebab sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa pasca reformasi silam, begitu banyak problem yang membelit para anggota Dewan. Mulai kasus asusila, premanisme, korupsi, kolusi bahkan yang berbau nepotisme tetap saja terjadi.


Buktinya, puluhan bahkan mungkin ratusan anggota Dewan di seluruh Indonesia ini ramai-ramai diperkarakan ke pengadilan bahkan akhirnya harus meringkuk di bui sebagai pesakitan. Demikian juga dialami Pimpinan DPRD Blora.


Itu semua terjadi tak lain dan tak bukan lantaran mereka belum memiliki kesadaran tentang bagaimana membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan seperti yang diajarkan oleh para pendahulu kita, dr Soetomo dan kawan-kawan. Kesadaran diri yang tipis atas peran dan fungsi mereka sebagai perwujudan wakil rakyat inilah yang tidak sesuai dengan filosofi dibentuknya Boedi Oetomo 101 tahun silam


Nama Boedi Oetomo dipilih para pahlawan bangsa itu memiliki pengharapan yang besar agar bangsa ini bisa bangkit dengan cara yang baik. “Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, kemahirannya.


Semoga saja para anggota legislatif hasil Pemilu 2009 di Kabupaten Blora khususnya mampu mengartikan sekaligus mengimplementasikan makna kebangkitan nasional. Kita berharap, tahun 2009 menjadi salah satu tonggak sejarah baru bagi kebangkitan para anggota DPRD yang terpilih, menjalankan tugasnya sesuai dengan harapan rakyat. Mari Bekerja keras membangun Blora dari segala kekurangan yang selama ini seakan terlupakan.

*) Redaktur Tabloid Suara Rakyat

SR Edisi 68 - Halaman 6- PENDIDIKAN

Pertanyakan Gaji Guru Dibayarkan BKK

BLORA, SR - Terhitung sejak awal Mei lalu gaji PNS Guru dibayakan melalui BPR/BKK kecamatan setempat. Beberapa guru yang berhasil dimintai keterangan membenarkan hal tersebut.


Lilis dan Mundari ketika ditemui SR mengatakan dirinya mengetahui hal tersebut saat gaji bulan Mei diterimanya. Bahkan Lilis yang juga guru SMPN 6 Blora ini, mengatakan dirinya terlambat menerima gajinya pada bulan lalu.


“Memang benar mas, saya baru terima gaji setelah tanggal 1, mungkin terkendala perubahan itu,” katanya.


Begitu juga dengan Mardi Utomo, salah satu guru paling popular di SMKN 2 Blora mengutarakan hal serupa. “Saya sendiri kaget, mungkin hanya Kabupaten Blora saja yang pembayaran gaji PNS Guru dibayarkan oleh BKK,” katanya.


Bahkan kepada SR dia balik bertanya apakah nantinya bias seorang guru ambil pinjaman harus di BKK, padahal selama ini kami mengambilnya di Bank Jateng,” ungkap Mardi Utomo.


Disamping itu Guru Akuntansi ini juga mempertanyakan kebijakan Pemkab ini, apa karena Bank Jateng sudah tidak mampu melayani pengambilan gaji PNS Guru. “Apa karena Bank Jateng padat kegiatan sehingga dialihkan ke BKK, atau ada hal lainnya,” tandasnya. (Roes)

SR Edisi 68 - Halaman 8 Blora - PANEN CABAI

Kepala Dipertan Blora Lakukan Panen Cabe

JIKEN, SR - Masyarakat petani di daerah non irigasi kebanyakan lebih cenderung senang menanam pohon jagung dan cabe, karena setelah musim penghujan sudah selesai tanaman yang paling menjanjikan adalah tanaman jagung dan cabe.

Rabu (20/5), masyarakat Desa Jiken mengadakan uji coba panen raya cabe di demplot pertanian milik di atas lahan salah seorang petani setempat yaitu Mundawan. Dan uji coba tersebut disponsori oleh PT. Syngenta dengan memberikan contoh obat pembasmi hama.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pertanian Blora Sutikno Slamet, Muspika Jiken, Kepala Desa se-Kecamatan Jiken, perwakilan kelompok tani Jiken, Bogorejo, Jepon serta tim dari syngenta.

Saat panen raya berlangsung, para perwakilan kelompok tani juga mendapat pengarahan langsung bagaimana cara menanam serta merawat pohon cabe dengan benar agar dapat menghasilkan panen yang maksimal.

“Dengan menanam cabe saya berharap agar nantinya dapat membantu meningkatkan penghasilan para petani,” terang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blora, Sutikno Slamet kepada SR. (Roes)

Sabtu, 30 Mei 2009

SR Edisi 68 -MODEL TABLOID








SR edisi 68-RAGAM-CEPU-LINTAS Kecamatan

KLIK GAMBAR


Wisuda Perdana SEC

Bekal Beroperasinya Blok Cepu

CEPU, SR – Lembaga pendidikan Smart English Centre (SEC) Cepu melaksanakan wisuda perdana bagi siswanya di pendapa Kecamatan Cepu, Minggu (24/5). Sebanyak 54 siswa yang diwisuda pada hari itu.

Camat Cepu Purwadi Setiono menyambut gembira munculnya lembaga kursus di Kota Minyak, terutama kursus bahasa Inggris untuk meramaikan kegiatan belajar di Cepu. “Kota Cepu akan menjadi kota yang didatangi bule-bule karena datangnya Exxonmobile, karena itu anak-anak juga harus bisa berbahasa Inggris dengan baik agar dapat berkomunikasi dengan para pendatang itu,” katanya.

Lembaga kursus semacam SEC diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat sehingga pada tahun 2010 dan seterusnya lebih sejahtera dan sudah menguasai Bahasa Inggris.

Sementara itu Direktur SEC, Sunardi, S.Ag, M.Pd I sangat berharap terbentuknya English Club bisa membantu siswa sehingga dapat mempraktekkan pelajaran yang diterima baik di bangku sekolah maupun dari kursus.

“English Club akan menjadi wadah untuk mempraktekkan bahasa Inggris sekaligus ajang silaturahmi,” ujarnya.

Menurutnya, anggotanya tidak hanya siswa yang sedang belajar namun bisa para alumni ataupun umum, sehingga memungkinkan alumni yang sudah berada di luar kota dapat mengabarkan kepada yang lain tentang English Club ini. Wadah itu dapat juga dijadikan ajang pertukaranm informasi bagi pesertanya.

SEC yang secara resmi berdiri 25 Pebruari 2009 mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari masyarakat. “Silahkan memberi saran atau kritik namun dengan hati sehingga membangun rasa cinta, demi perkembangan SEC di masa depan,” kata Sunardi si sela-sela acara wisuda. (Agt)


Suspa BMP AU Angk. VII Kunjungan Praktek di Pusdiklat Migas

CEPU, SR - Peserta Suspa BMP Angkatan Udara (AU) Angkatan VII sebanyak 15 orang akan berada di Pusdiklat Migas untuk melakukan kunjungan praktek selama 3 hari yang dimulai pada hari Rabu, tanggal 27 Mei 2009 sampai dengan 29 Mei 2009.

Rangkaian kunjungan diawali dengan kedatangan peserta Suspa BMP ke Pusdiklat Migas dan diterima langsung oleh Kepala Pusdiklat Migas, Ir. Agus Purwanto, M.Sc. di ruang Patra I. Ir. Agus Purwanto, M.Sc. menyampaikan ucapan selamat datang kepada peserta Suspa BMP Angkatan VII, semoga apa yang ada di Pusdiklat Migas dapat memenuhi keingintahuan dan melengkapi ilmu peserta.

Kabekmatpus AU, Kolonel Kal. Adrianto yang mendampingi peserta Suspa BMP juga menyampaikan bahwa AU telah bekerja sama dengan Pusdiklat Migas cukup lama, sehingga diharapkan peserta nanti dapat memanfaatkan kesempatan menimba ilmu sebaik-baiknya.

Lokasi pertama dalam rangkaian kunjungan ini adalah Kilang Pusdiklat Migas, yang kemudian dilanjutkan praktek Fire and Safety, praktek Spesifikasi Avtur, praktek Pengujian Kadar Oktan, praktek Pengujian Freezing Point dan terakhir adalah kunjungan ke sumur minyak di lapangan Kawengan dan Wonocolo. (Roes)


Satu Warga Cepu, Blora Korban Tragedi Hercules

Saudara punya firasat giginya rontok selama tiga hari

Meski tampak tegar dan tabah Lettu Nyawungtyas (27) tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat jenasah suaminya diberangkatkan menuju TMP Cepu. Suaminya adalah Mayor Andi Kristiawan merupakan salah satu korban tewas jatuhnya pesawat Herkules C-130 di Desa Geplak Kecamatan Karas, Magetan.

Pria asli Cepu, Blora itu tercatat sebagai Komandan Satkomlek Kosek II Kohanas Ujung Pandang dan jabatan itu baru dijabatnya selama satu bulan. Sebelum bertugas di Ujung Pandang Andi pernah bertugas di Aceh dan Jakarta sebelum akhirnya mendapat promosi di Makassar.

Nyawungtyas yang pagi itu baru datang dari Jakarta bersama keluarganya langsung pingsan saat melihat peti jenasah suaminya yang terbungkus kain merah putih. Sehingga beberapa kerabat langung memapahnya agar tidak jatuh.

Sementara anakya semata wayangnya yang baru berumur lima bulan Wikanditya terus menangis dalam gendongan tantenya. Sampai jenasah diberangkatkan perempuan yang bertugas di RS AL Jakarta ini terus dipapah sampai TMP Cepu.

Informasi yang dihimpun SR, Mayor Andi ikut dalam pesawat Hercules tersebut sebenarnya akan kembali ke Makasar untuk melaksanakan tugas, setelah libur dari Jakarta untuk menengok anak dan istrinya. Selama ini Andi memang tinggal di Jakarta sementara orang tuanya ada di Cepu.

“Setelah pulang menengok anak dan istrinya, dia kembali dengan menumpang Hercules, tapi akhirnya malah pulang selamanya,” kata Andi (45) salah satu saudaranya yang datang dari Jakarta, Jum’at (21/5).

Karier Mayor Andi Kristiawan di AU tergolong cukup bagus, pasalnya baru sembilan tahun bertugas pangkat mayor sudah dia genggam. Dia masuk pada tahun 2000 lewat jalur perwira karier dari jenjang Sarjana.

Sementara itu Joko, paman Andi yang dari Blora kepada SR menceritakan, bahwa firasat buruk itu malah datang dari Istri Joko yang tinggal di Blora. Istrinya sempat cerita kalau selama tiga hari berturut-turut bermimpi soal giginya yang rontok.

“Istri saya mimpi kalau giginya rontok, saya juga tidak ada pikiran lain soalnya keluarga di Blora juga baik-baik, eh tak tahunya malah Andi yang pergi,” ujarnya di sela-sela keberangkatan jenasah.

Berita perihal kematian Andi menurut Joko diperoleh kabar dari adik korban yang saat itu melihat di TV kalau ada pesawat Hercules yang jatuh, kemudian Joko langsung menelepon korban namun tidak diangkat lalu menghubungi AU di Jakarta dan benar kalau benar korban ada dalam pesawat tersebut.

“Tahu kabar itu saya langsung menuju Magetan untuk mencari korban sendiri mas, beruntung saat itu saya bisa langsung menemukan dan kondisi korban yang masih utuh,” jelasnya.

Menurutnya saat pencarian jenasah itu, banyak dia jumpai tubuh penumpang lainnya sudah banyak yang berserakan bahkan bau yang tercium olehnya bau tubuh manusia yang terbakar. Bahkan Joko sempat melihat ada korban lainnya yang mati terbakar dengan masih mendekap mobil-mobilan yang mungkin oleh-oleh buat anaknya. “Itulah kuasa Tuhan mas, apapun bisa terjadi,” imbuhnya. (Gie)





Bioetanol Blora Mulai Rambah Nasional

TODANAN, SR - Deklarasi Asosiasi Pengusaha Bioetanol Indonesia (APBI) Jawa Tengah di Todanan, Rabu (20/5) berlangsung di Balai Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Blora. Deklarasi tersebut disaksikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Blora Adi Purwanto, Staf Ahli Bupati Blora Setyo Edi, Kasi dan Suplayer bahan baku booetanol dari Kudus serta plasma Beoetanol.


Ketua APBI Suparyadi mengatakan, pembentukan APBI tersebut semula adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Satria. Setelah termotivasi oleh isu nasional terkait dengan berkembangnya kebutuhan energi alternatif selain bahan bakar minyak (BBM). Hal ini terkait dengan adanya potensi bahan baku bioetanol yang melimpah di daerah Todanan, maka untuk itu Suparyadi tergugah membentuk APBI yang menurutnya kedepan sangat prospektif sekali.


Suparyadi juga menambahkan, saat ini asosiasi yang dipimpinnya itu, telah memproduksi bioetanol yang bahan baku ketela jenis Daplang dan Markonah. “Kami juga membuat bioetanol dari tetes tebu yang disuplai dari Kudus,” ungkapnya.


Suparyadi juga menambahkan saat ini pihaknya sudah bisa memproduksi bioetanol antara 300 - 500 liter per hari dengan harga per liter bisa terjual Rp 4.000,-. Pihaknya jua optimis kedepan bisa berlipat kali hasil produksinya.


Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Blora Adi Purwanto dalam sambutannya mengatakan, selaku pribadi dan pemerintah kabupaten sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh Suparyadi dan kawannya. “Dengan adanya APBI tersebut, natinya bakal menjadi image masyarakat luas bahwa Blora juga populer dengan bioetanolnya,” kata Adi.


Selain itu menurut Adi Purwanto, secara tak langsung APBI di Todanan ini ikut berperan serta secara aktif dalam membantu melestarikan produksi energi alternatif. Adi juga menambahkan, dengan adanya APBI d ini juga berarti tanggap dan mampu menjabarkan instruksi presiden terkait dengan penggunaan energi alternatif.


Ketika ditanya tentang kesiapan pemda dalam menyukseskan program bioetanaol, Adi optimis pihaknya (Pemkab Blora-red) akan siap membantu demi kemajuan dan berkembangnya APBI ini.

"Jika dapat terus berkembang, Insya Allah tahun depan (2010-red)) kami akan usulkan di APBD Blora," ujar Adi Purwanto. (Roes)



Diduga Selewengkan Raskin

Kades Sambongrejo Didemo Ratusan Warga

BLORA, SR – Tidak puas dengan perilaku Kepala Desanya, Selasa (19/5) sekitar 200 warga Desa Sambongrejo Kecamatan Ngawen, Blora ngluruk di balai desa setempat untuk meminta penjelasan Kepala Desa terkait penyelewengan beras miskin (raskin).

Warga menilai Kepala Desa Sunarman telah melakukan penyelewengan raskin sejak maret 2008 sampai sekarang. Hal itu bermula dari beberapa warga yang mengetahui adanya kenaikan jatah raskin untuk desanya mengalami kenaikan namun yang dibagikan tetap seperti jatah semula.

Data yang berhasil dihimpun SR, sampai dengan Pebruari 2008, Desa Sambongrejo menerima 2550 kg. Pada bulan maret 2008 hingga sekarang raskin yang diterima naik menjadi 3825 kg, namun yang dibagikan kepada warga tetap sama yaitu 2550 kg.

”Setelah kami tahu kalau jatah raskin naik namun yang dibagikan sama jelas kami kaget, makanya warga mempertanyakan kepada kades, sisanya yang tidak dibagikan larinya kemana,” ungkap Sukandar warga setempat yang kebetulan juga sebagai ketua BPD.

Menurutnya akhirnya warga melaporkan hal itu kepada kepolisian mempertanyakan kemana sisanya raskin tersebut. ”Jumlahnya sangat besar, kalau ditotal bisa mencapai 36 juta,” tambahnya.

Bantah Menyelewengkan

Kepala Desa Sambongrejo Sunarman saat digeruduk warga membantah adanya penyelengan itu, menurutnya setiap raskin yang datang dirinya tidak tahu dan tidak pernah tanda tangan. Bahkan kades menuding alau warga tidak pernah memberikan masukan dan harus dibuktikan melalui proses hukum.

”Setiap datangnya raskin saya tidak tahu, bahkan tidak pernah tanda tangan,” katanya kepada warga.

Mendengar jawaban itu beberapa warga emosi dan menunjukkan bukti-bukti kalau jelas-jelas kades tanda tangan lengkap dengan stempelnya, namun kades masih berdalih.

”Perangkat desa tahunya truk yang menagkut raskin sudah sampai di balai desa dan perangkat langsung membagikannya kepada warga di lingkungan masing-masing, dan yang masuk di balai desa sejak Maret hanya 2550 kg,” kata salah seoarang perangkat desa setempat.

Sementara itu raskin yang ada di balai desa dengan jumlah sekitar 31 ton tidak akan dibagikan karena bermasalah. Beras itu diduga hasil dari sisa beras yang tidak dibagikan namun karena persoalan itu dilaporkan ke polisi maka kades mendatangkan raskin itu dengan alasan ingin dibagikan.

Namun kesepakatan warga menolak karena bermasalah dan tetap pada proses hukum dari kepolisian. Kasus serupa juga terjadi awal April lalu yang melibatkan Kades Semampir Kecamatan Jepon, Blora Nurkasih yang dilaporkan warga karena tidak membagikan raskin kepada warganya dengan alasan belum melunasi hutang, kini persoalan itu sedang di proses oleh pihak kepolisian.

Sebelumnya juga Kepala Inspektorat Wilayah Blora Winarno, telah memperingatkan kepada para kepala desa agar tidak bermain-main dengan raskin atau bantuan langsung tunai dengan dalih dan alasan apapun. (gie)



Hilangkan Kegemaran Jajan

Membiasakan anak sarapan membuat si kecil tercukupi asupan gizinya. Masalah gizi anak sebaiknya mendapatkan perhatian khusus melihat masih sering munculnya kesalahpahaman orang tua terhadap hal ini.

"Ada tiga masalah gizi,yaitu kurang gizi, kelebihan gizi dan salah gizi yang memiliki indikasi dan akibat yang berbeda-beda," tutur ahli gizi yang juga berpraktik di Siloam Semanggi Specialist Clinic Jakarta, dr Fiastuti Witjaksono MS, SpGK.

Untuk menghindarinya, komposisi seimbang antara karbohidrat (45-65 persen), protein (10-25 persen), lemak (30 persen) dan berbagai macam vitamin lain mutlak harus diberikan kepada anak yang pada akhirnya dapat membantu untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kepandaian dan kematangan sosial.

Fiastuti menuturkan, apabila anak melakukan sarapan yang baik, sangat berpengaruh pada kesehatan anak yang otomatis akanmemengaruhi keseharian mereka.

"Jika sarapan dilakukan anak, maka yang bermanfaat untuk anak, berkaitan dengan akademisnya ialah bermanfaat terhadap fungsi kognitif, daya ingat, nilai akademis, tingkat kehadiran di sekolah, fungsi psikososial dan kondisi perasaan si anak," ujar Fiastuti yang juga staf luar biasa pada Departemen Ilmu Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Apabila sarapan tidak sempat, disarankan Fiastuti untuk menyiapkan sarapan yang dijadikan bekal bagi anak. Karena makan pagi dalam porsi yang cukup juga akan menghilangkan kebiasaan jajan pada anak.

"Dengan sarapan, maka juga bisa mengurangi kebiasaan anak untuk jajan," ucap ahli gizi kelahiran Yogyakarta, 7 Februari 1954 ini.

"Kebiasaan jajan biasanya dimulai dari pola makan keluarga dan salah satu cara adalah membuat 'kudapan tandingan' yang tak kalah enak dari jajanan yang dapatdibeli di luar," tutur pakar tumbuh kembang lain, Dra Mayke Tedjasaputra. Orang tua sebaiknya membuat variasi bekal yang menarik dan inspirasional dalam bentuk, penataan, dan rasa.

Bekal yang praktis dan mudah dibawa akan membuat anak tertarik dan pada akhirnya memakan bekal tersebut. Dengan ini, para orang tua dapat memastikan bahwa anak mereka telah mengonsumsi asupan gizi sesuai dengan jumlah yang disarankan.

"Kegiatan jajan bagi anak adalah suatu kebiasaan, dan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka. Dan tidak mudah untuk mengubah pola kebiasaan jajan ini," ujar psikolog yang mengikuti course on theraplay di Institute of Theraplay Chicago ini.

Kebiasaan jajan anak bisa saja ditimbulkan dari kebiasaan keluarga, selain itu juga dari tetangga, sekolah, bahkan dari iklan-iklan yang sangat gencar di televisi yang membuat anak semakin tertarik untuk jajan di luar.

"Batasi permintaan anak untuk jajan,baik di rumah maupun di sekolah, atau bisa juga membatasi uang jajannya," pesan Mayke.

Fiastuti menyarankan untuk mengajarkan anak makan itu sejak anak berusia enam bulan. Dan untuk membuat anak gemar makanan padat, maka ajarkan secara bertahap. Dimulai dari susu, bubur kacang hijau sampai pada makanan yang padat seperti nasi. Menginjak usia yang lebih besar, biasanya anak suka makanan yang gurih. Nasi goreng atau mi goreng biasanya menjadi menu favorit si kecil. Pertanyaannya amankan konsumsi mi, khususnya mi instan buat anak? Sebenarnya tak masalah membuat menu sarapan dari mi.

Hanya Anda harus mengkreasikan dengan menambah unsur serat seperti sayur dan protein seperti telur. Masaklah mi dengan tambahan sayuran wortel, brokoli, atau bayam plus telur mata sapi. (*)

Pengaruh Selingkuh pada Pria & Wanita

Tak bisa dipungkiri, seseorang yang berselingkuh dari pasangannya akan dihantui perasaan bersalah. Namun, seberapa besar kadar perasaan bersalah rupanya berkaitan erat dengan jenis perselingkuhan yang dilakukan dan juga jenis kelamin.
Hasil penelitian sebelumnya menyatakan, lelaki merasa bersalah jika jatuh cinta dengan orang lain, sedangkan perempuan merasa bersalah atas perselingkuhan seksualnya. Namun penelitian terbaru di Toronto, Kanada, menemukan hasil yang bertentangan dengan penelitian lama.
Dengan menganalisa sebanyak 130 orang partisipan di Toronto, peneliti membuktikan bahwa lelaki ternyata lebih merasa bersalah setelah melakukan perselingkuhan seksual, sedangkan perempuan dihantui perasaan bersalah seusai perselingkuhan yang bersifat emosional. Partisipan diminta untuk membayangkan seandainya mereka tertarik dengan seseorang, selain pasangannya. Dalam riset ini partisipan diminta memikirkan tentang masa lalu, sekarang, dan harapan yang ingin mereka gapai di masa depan mengenai hubungan cinta mereka.
Sementara itu, untuk mengetahui faktor mana yang lebih menyebabkan perasaan bersalah, partisipan harus mengisi daftar pertanyaan yang berisi enam dilema yang muncul saat berselingkuh. Masing-masing pilihan dilengkapi dengan satu pilihan dilema karena faktor emosional dan juga faktor seksualitas.
Rupanya, rata-rata perilaku berselingkuh pada lelaki banyak dipengaruhi kebutuhan biologis, sehingga mereka memercayai hubungannya lebih bersifat seksual. Sedangkan perempuan, cenderung terdorong oleh kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, serta loyalitas dalam suatu hubungan. Sehingga ketika berselingkuh, perempuan lebih merasakan nilai emosional.
Riset ini juga mengungkapkan bahwa perempuan lebih berpeluang meninggalkan pasangannya jika terbukti dia berselingkuh, dibandingkan dengan pria. (*)